PERSAMAAN & PERBEDAAN SISTEM AKUNTANSI DARI NEGARA BELANDA, INGGRIS, JERMAN, REPUBLIK CEKO & PERANCIS

Belanda

Belanda memiliki undang-undang akuntansi dan persyaratan laporan keuangan yang cukup bebas tapi standar praktik professional yang sangat tinggi.     

Regulasi dan Pelaksanaan Akuntansi

Regulasi akuntansi di Belanda tetap bersifat liberal hingga munculnya Act on Annual Financial Statements pada tahun 1970 yang berisi:

  • Laporan keuangan tahunan harus menunjukkan gambaran yang jelas dari posisi keuangan dan hasil tahun tersebut, dan semua artikelnya harus dikelompokkan dan dijelaskan dengan tepat.
  • Laporan keuangan harus disusun berdasarkan praktik bisnis yang aman.
  • Dasar-dasar untuk penulisan asset dan utang serta untuk menentukan hasil operasi harus diungkapkan.
  • Laporan keuangan harus disusun pada dasar yang konsisten, dan pengaruh material dari perubahan dalam prinsip-prinsip akuntansi harus diungkapkan dengan tepat.
  • Informasi keuangan yang komparatif untuk periode terdahulu harus diungkapkan dalam laporan keuangan dan catatan kaki yang menyertainya.

      Laporan KeuanganLaporan keuangan harus meliputi hal-hal:  Neraca, Laporan Laba Rugi, Catatan, Laporan Direktur dan   Informasi lain yang sudah ditentukan     

Pengukuran Akuntansi

  • Goodwill dikapitalisasi dan diamortisasi
  • Persediaan dinilai dengan FIFO, LIFO atau rata-rata
  • Semua asset tidak berwujud memiliki usia terbatas.
  • Biaya riset dan pengembangan hanya dikapitalisasi ketika jumlahnya bisa ditutup kembali
  • Pajak penghasilan yang ditangguhkan diakui berdasarkan konsep alokasi yang komprehensif.

 

Inggris

Sejak tahun 1970-an, sumber paling penting untuk pengembangan dalam undang-undang perusahaan adalah EU Directives, terutama Fourth and Seventh Directive.     

Regulasi dan Pelaksanaan Akuntansi

Undang-undang tahun 1981 memuat 5 prinsip akuntansi dasar, yaitu:

1.     Pendapatan dan beban disesuaikan dengan dasar akrual.

2.     Aset dan kewajiban individu dalam setiap golongan asset dan kewajiban dihitung secara terpisah.

3.     Prinsip konservatisme (kehati-hatian) diterapkan, khususnya dalam pengenalan penghasilan yang didapat dan semua kewajiban dan kerugian yang ditemukan.

4.     Penerapan kebijakan akuntansi yang konsisten diharuskan dari tahun ketahun.

5.     Prinsip perusahaan yang terus berjalan bisa diterapkan untuk entitas yang sedang dihitung.

Enam dewan akuntansi di Kerajaan Inggris:

1.     The Institute of Chartered Accountants in England dan Wales

2.     The Institute of Chartered Accountants in Ireland

3.     The Institute of Chartered Accountants in Scotland

4.     The Association of Chartered Certified Accountants

5.     The Chartered Institute of Management Accountants

6.     The Chartered Institute of Public Finance and Accountancy     

Laporan Keuangan

Laporan keuangan Inggris mencakup hal-hal:

1.     Laporan direktur

2.     Akun Laba dan Rugi serta neraca

3.     Laporan arus kas

4.     Laporan keseluruhan laba dan rugi

5.     Laporan kebijakan akuntansi

6.     Catatan yang direferensikan dalam laporan keuangan

7.     Laporan auditor     

Penghitungan akuntansi

  • Goodwill dikapitalisasi dan diamortisasi selama kurang dari 20 tahun
  • Aset-aset dihitung pada harga perolehan, biaya sekarang atau gabungan keduanya
  • Depresiasi dan amortisasi harus berhubungan dengan dasar perhitungan yang digunakan untuk asset-aset yang mendasarinya
  • Persediaan dihitung berdasarkan FIFO atau rata-rata
  • Pajak yang ditangguhkan dihitung menggunakan metode hutang dengan dasar provisi penuh untuk perbedaan berdasarkan waktu.

 

Jerman

Akuntansi nasional Jerman diatur dalam German Commercial Code (HGB), berisi:

1.     memungkinkan perusahaan yang mengeluarkan ekuitas atau utang pada pasar modal resmi untuk menggunakan prinsip akuntansi internasional dalam laporan keuangan gabungan mereka.

2.     memungkinkan adanya penetapan perusahaan sector swasta untuk menyusun standar akuntansi bagi laporan keuangan gabungan.

Regulasi dan Pelaksanaan Akuntansi 

Ada lima perusahaan besar yang terlibat dalam penyusunan standar di Jerman:

1.     German Accounting Standards Committee atau GASC, atau dalam bahasa Jerman, Deutsches Rechnungslegungs Standards Committee atau DRSC (Otoritas penyusun standar Jerman)

2.     Financial Accounting Control Act (Badan pengontrol kepatuhan).

3.     Financial Reporting Enforcement Panel atau FREP (Dewan sector swasta)

4.     Federal Financial Supervisory Authority (Dewan sector public)

5.     Wirtschaftsprufer atau WPs (Badan pemeriksa perusahaan)

Laporan Keuangan

Perusahaan Jerman harus melaporkan hal-hal berikut:  Neraca, Laporan Laba Rugi, Catatan, Laporan Manajemen  dan Laporan Auditor

Pengukuran Akuntansi

  • Metode pembelian (akuisisi) menggunakan metode penggabungan usaha.
  • Aset dan utang dari badan usaha yang diakuisisi dinaikkan pada nilai yang ada.
  • Aset berwujud dinilai berdasarkan harga perolehan.
  • Persediaan dicatat pada biaya atau pasar yang lebih rendah.
  • Depresiasi dinilai sesuai dengan penurunan tingkat pajak.
  • Menggunakan pendekatan mata uang fungsional terhadap translasi mata uang asing.
  • Goodwill diuji setiap tahun untuk mengetahui adanya penurunan.
  • Pajak-pajak yang ditangguhkan biasanya tidak muncul dalam akun perusahaan pribadi, namun pajak tersebut bisa muncul dalam laporan gabungan.

Republik Ceko

Undang-undang dan praktik akuntansi Republik Ceko lebih menyesuaikan dengan standar Barat yang menggambarkan prinsip-prinsip yang ditanamkan dalam European Union Directives.

Regulasi dan Pelaksanaan Akuntansi

  • Accountancy Act: menentukan persyaratan untuk akuntansi.
  • Fourth and Sevent Directives dari Uni Eropa: menetapkan penggunaan daftar perkiraan untuk pembukuan catatn dan penyusunan laporan keuangan.
  • Czech Securities Commission: bertanggung jawab mengawasi dan memantau pasar modal.
  • Act on Auditors: Mengatur proses audit.
  • Chamber of Auditors: mengawasi pendaftaran, pendidikan, pengujian dan menertibkan auditor, penyusunan standar audit dan regulasi praktik audit seperti format laporan audit.

Laporan Keuangan

Laporan keuangan harus bersifat komparatif, terdiri atas:  Neraca, Akun keuntungan dan kerugian (Laporan Laba Rugi) dan  Catatan  .    

Pengukuran Akuntansi

  • Metode Akuisisi (pembelian)
  • Goodwill dikapitalisasi atau diamortisasi.
  • Aset berwujud dan tidak berwujud dinilai berdasarkan biaya.
  • Persediaan dinilai pada biaya rendah (FIFO) atau metode rata-rata.
  • Biaya riset dan pengembangan dikapitalisasi.
  • Pajak penghasilan yang ditangguhkan diberikan sepenuhnya untuk semua selisih sementara.

 

Perancis

Akuntansi nasional Perancis diatur dalam Plan Comptable General, berisi:

1.     Tujuan dan prinsip laporan dan akuntansi keuangan.

2.     Definisi asset, utang, ekuitas pemegang saham, pendapatan, dan pengeluaran.

3.     Aturan-aturan valuasi dan pengakuan.

4.     Daftar akun, persyaratan penggunaannya, dan persyaratan tata buku lainnya yang telah distandarisasi.

5.     Contoh laporan keuangan dan aturan presentasinya.

Regulasi dan Pelaksanaan Akuntansi

Ada lima perusahaan besar yang terlibat dalam penyusunan standar di Perancis:

1.     Counseil National de la Comptabilite, atau CNC (Badan Akuntansi Nasional).

2.     Comite de la Reglementation Comptable, atau CRC (Komite Regulasi Akuntansi).

3.     Autorite des Marches Financiers, atau AMF (Otoritas Pasar Keuangan).

4.     Ordre des Experts-Comptables, atau OEC (Institut Akuntan Publik).

5.     Compagnie Nationale des Commissaires aux Comptes, atau CNCC (Institut Nasional Undang-undang Auditor).

Laporan Keuangan

Perusahaan Perancis harus melaporkan hal-hal berikut: Neraca, Laporan Laba Rugi, Catatan atas laporan keuangan, Laporan Direktur dan Laporan Auditor.

Patokan Akuntansi

  • Aset-aset berwujud biasanya dihitung berdasarkan nilai perolehan.
  • Depresiasi dilakukan menurut ketentuan pajak, biasanya dengan metode garis garis lurus atau saldo menurun.
  • Persediaan dinilai berdasarkan nilai terendah (FIFO) atau rata-rata tertimbang.
  • Biaya riset dan pengembangan dibebankan pada saat terjadinya (akrual basis)
  • Aset-aset yang dipinjamkan tidak dikapitalisasi, dan biaya sewa dibebankan.
  • Utang untuk kepentingan pasca-pekerjaan tidak harus diakui dan pinjaman keuangan tidak perlu dikapitalisasi.
  • Pajak-pajak yang ditangguhkan dihitung menggunakan metode kewajiban, dan dipotong ketika pembalikan perbedaan waktu bisa diperkirakan.
  • Goodwill biasanya dikapitalisasi dan diamortisasi ke dalam pendapatan.

 

 
Sumber : Choi, Frederick D. S. dan Gary K. Meek. International Accounting. Buku 1 Edisi 6. 2010: Salemba Empat

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN AKUNTANSI INTERNASIONAL

Standar dan praktik akuntansi di setiap Negara merupakan hasil dari interaksi yang kompleks di antara faktor ekonomi, sejarah, kelembagaan dan budaya. Dapat diduga akan terjadinya perbedaan antarnegara. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi nasional juga dapat membantu menjelaskan perbedaan akuntansi antar bangsa.

Akuntansi Internasional adalah akuntansi untuk transaksi internasional, perbandingan prinsip akuntansi antarnegara yang berbeda dan harmonisasi berbagai standar akuntansi dalam bidang kewenangan pajak, auditing dan bidang akuntansi lainnya. Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan di perusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis. Berikut ini karakteristik era ekonomi global:
1. Bisnis Internasional
2. Hilangnya batasan-batasan antar Negara era ekonomi global sering sulit untuk mengindentifikasi. Negara asal suatu produk atau perusahaan, hal ini terjadi pada perusahaan multinasional
3. Ketergantungan pada perdagangan internasional

Ada 8 (delapan) faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi internasional. Tujuh faktor utama ekonomi, sejarah social, dan/ atau kelembagaan dan merupaka faktor yang sering disebutkan oleh para penulis akuntansi. Akhir-akhir ini, hubungan antara budaya (faktor kedelapan berikut ini) dan perkembangan akuntansi mulai digali lebih lanjut.Delapan faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi :

1.     Sumber pendanaan

Pada negara yang memiliki pasar ekuitas yang kuat, akuntansi memiliki fokus atas seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas), dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa depan dan risiko terkait. Sedangkan dalam Negara yang menerapkan sistem berbasis kredit, memiliki fokus atas perlindungan kreditor melalui pengukuran akuntansi yang konservatif.

2.     Sistem hukum

Dunia barat mempunyai dua orientasi dasar yaitu hokum kode (sipil) dan hokum umum (kasus). Hokum kode diambil dari hokum Romawi dan kode napoleon. Di Negara-negara yang menerapkan hokum kode, aturan akuntansi digabungkan dalam hokum nasional dan cenderung sangat lengkap serta mencakup banyak prosedur. Sedangkan hukum umum berkembang atas dasar kasus per kasus tanpa adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus dalam kode yang lengkap. Aturan akuntansi menjadi adaptif dan inovatif karena ditetapkan oleh organisasi professional sector swasta.

3.     Perpajakan

Di kebanyakan Negara, peraturan pajak secara efektif menentukan standar karena perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun mereka untuk mengklaimnya guna keperluan pajak. Namun, ketika akuntansi keuangan dan pajak terpisah, kadang-kadang aturan pajak mengharuskan penerapan prinsip akuntansi tertentu, yang berbeda dengan prinsip akuntansi keuangan.

4.     Ikatan politik dan ekonomi

Banyak Negara berkembang yang menerapkan system akuntansi yang dikembangkan oleh bangsa lain, entah karena paksaan ataupun karena keinginan sendiri. Seperti contoh sistem pencatatan double entry yang berawal di italia kemudian menyebar di Eropa; Inggris mengekspor akuntan dan konsep akuntansi di seluruh wilayah kekuasaannya; pendudukan jerman pada saat PD II menyebabkan Perancis menerapkan plan comptable. USA memaksa rezim pengatur akuntansi bergaya USA di Jepang pada saat PD II.

5.     Inflasi

Inflasi menyebabkan distorsi terhadap akuntansi biaya histories dan mempengaruhi kecenderungan (tendensi) suatu Negara untuk menerapkan perubahan terhadap akun-akun perusahaan.

6.     Tingkat Perkembangan Ekonomi

Faktor ini mempengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama. Masalah akuntansi seperti penilaian aktiva tetap dan pencatatan depresiasi yang sangat relevan dalam sector manufaktur menjadi semakin kurang penting.

7.     Tingkat Pendidikan

Standar praktik akuntansi yang sangat rumit akan menjadi tidak berguna jika disalahartikan dan disalahgunakan. Pengungkapan mengenai resiko efek derivative, misalnya, tidak akan informatif kecuali jika dibaca oleh pihak yang berkompeten.

8.     Budaya

Budaya berarti nilai-nilai dan perilaku yang dibagi oleh suatu masyarakat. Variasi budaya mendasari pengaturan kelembagaan di suatu Negara.

Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi nasional, juga membantu menjelaskan perbedaan akuntansi antar bangsa. Delapan faktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi di atas, yang mana diantaranya; sumber pendanaan, sistem hukum, perpajakan, ikatan politik dan ekonomi, inflasi, tingkat perkembangan ekonomi, tingkat pendidikan, dan budaya; berpengaruh secara signifikan terhadap berkembangnya akuntansi di dunia.

Perbedaan Akuntansi Internasional dengan Akuntansi Lainnya

Pada pengertiannya, Akuntansi internasional merupakan akuntansi sebagai transaksi internasional, perbandingan akuntansi antar Negara yang berbeda dan harmonisasi berbagai standar akuntansi dalam bidang kewenangan pajak, auditing dan bidang akuntansi lainnya. Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan diperusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis. Akuntansi memainkan peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Tujuan dari akuntansi adalah menyediakan informasi yang dapat digunakan oleh pengambilan keputusan untuk membuat keputusan ekonomi.
Dalam dunia usaha akuntansi merupakan suatu alat informasi, dimana akuntansi memberikan informasi yang akurat untuk pengambilan keputusan. Akuntansi intenasional memiliki peran yang serupa dengan konteks yang lebih luas, dimana lingkup pelaporannya adalah untuk perusahaan multinasional dengan transaksi dan operasi lintas batas Negara atau perusahaan dengan kewajiban pelaporan kepada para pengguna laporan dinegara lain.
Proses akuntansinya pun tidak berbeda dan dengan kualifikasi standar pelaporan tertentu yang diatur secara internasional maupun local pada Negara tertentu.
Tapi penting untuk diketahui mengenai dimensi internasional dari proses akuntansi pada tiap negara yang berbeda. Dimana perbedaan itu meliputi, perbedaan budayam praktik bisnis, struktur politik, system hukum, nilai mata uang, tingkat inflasi local, risiko bisnis, dan serta aturan perundang-undangan mempengaruhi bagaimana perusahaan multinasional melakukan kegiatan operasionalnya dan memberikan laporan keuangannya.

Ada beberapa hal yang menyatakan bahwa akuntansi internasional berbeda dengan yang lainnya, perbedaan studi akuntansi internasional adalah pada:
1. Pelaporan untuk MNC/MNE (Multi National Corporation yaitu sebuah perusahaan internasional atau transnasional yang berkantor pusat disatu negara tetapi kantor cabang diberbagai negara maju dan berkembang)

2. Operasi transaksi melintasi batas – batas negara.

3. Pelaporan ditujukan kepada pengguna yang berlokasi di negara selain negara perusahaan.

4. Perpajakan Internasional

5. Transaksi Internasional

 

http://eriahandaresta.blogspot.com/2011/03/akuntansi-internasional-minggu-1.html

Sejarah Perkembangan Akuntansi Internasional

SUDUT PANDANG SEJARAH
Beberapa waktu yang lalu, akuntansi memperlihatkan kemampuannya untuk menarik perhatian publik melalui akuntansi dan pengukuran sumber daya manusia, pelaporan dan audit atas tanggungjawab sosial berbagai organisasi. Saat ini akuntansi beroperasi antara lain dalam lingkungan perilaku, sektor publik dan Internasional.
Akuntansi menyediakan informasi bagi pasar modal-pasar modal besar, baik domestik maupun internasional. Akuntansi telah meluas ke dalam area konsultasi manajemen dan melibatkan lebih besar porsi teknologi informasi dalam sistem dan prosedurnya. Dengan demikian akuntansi jelas tanggap terhadap stimulus lingkungan.
Menurut Choi dan Muller (1998; 1) bahwa ada tiga kekuatan utama yang mendorong bidang akuntansi internasional kedalam dimensi internasional yang terus tumbuh, yaitu (1) faktor lingkungan, (2) Internasionalisasi dari disiplin akuntansi, dan (3) Internasionalisasi dari profesi akuntansi. Ketiga faktor tersebut dalam perjalanan/perkembangan akuntansi sangat berperan dan menentukan arah dari teori akuntansi yang selama bertahun-tahun dan dekade banyak para ahli mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mengembangkan teori akuntansi dan ternyata mengalami kegagalan dan hal tersebut menyebabkan terjadinya evolusi dari ”theorizing” ke “conceptualizing”.

Sejarah Akuntansi Internasional
Awalnya, akuntansi dimulai dengan sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) di Italia pada abad ke 14 dan 15. Sistem pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping), dianggap awal penciptaan akuntansi. Akuntansi modern dimulai sejak double entry accounting ditemukan dan digunakan didalam kegiatan bisnis yaitu sistem pencatatan berganda (double entry bookkeeping) yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli (th 1447). Luca Pacioli lahir di Italia tahun 1447, dia bukan akuntan tetapi pendeta yang ahli matematika, dan pengajar pada beberapa universitas terkemuka di Italia. Lucalah orang yang pertama sekali mempublikasikan prinsip-prinsip dasar double accounting system dalam bukunya berjudul : Summa the arithmetica geometria proportioni et proportionalita di tahun 1494. Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa prinsip dasar double accounting system bukanlah ide murni Luca namun dia hanya merangkum praktek akuntansi yang berlangsung pada saat itu dan mempublikasikannya. Hal ini diakui sendiri oleh Luca (Radebaugh, 1998) “Pacioli did not claim that his ideas were original, just that he was the one who was trying to organize and publish them. He objective was to publish a popular book that could be used by all, following the influence of the venetian businessmen rather than bankers”.
Praktek bisnis dengan metode venetian yang menjadi acuan Luca menulis buku tersebut telah menjadi metode yang diadopsi tidak hanya di Italia namun hampir disemua negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Inggris. Luca memperkenalkan 3 (tiga ) catatan penting yang harus dilakukan:
a. Buku Memorandum, adalah buku catatan mengenai seluruh informasi transaksi bisnis.
b. Jurnal, dimana transaksi yang informasinya telah disimpan dalam buku memorandum kemudian dicatat dalam jurnal.
c. Buku Besar, adalah suatu buku yang merangkum jurnal diatas. Buku besar merupakan centre of the accounting system (Raddebaugh, 1996).
Perkembangan sistem akuntansi ini didorong oleh pertumbuhan perdagangan internasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi komersial.
“Pembukuan ala Italia” kemudian beralih ke Jerman untuk membantu para pedagang zaman Fugger dan kelompok Hanseatik. Pada saat bersamaan filsuf bisnis Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan periodic dan pemerintah Perancis menerapkan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas pemerintah.
Tahun 1850-an double entry bookkeeping mencapai Kepulauan Inggris yang menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi dan profesi akuntansi publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris tahun 1870-an. Praktik akuntansi Inggris menyebar ke seluruh Amerika Utara dan seluruh wilayah persemakmuran Inggris. Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia. Sistem akuntansi Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah pemerintahan Perancis. Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengaruh di Jepang, Swedia, dan Kekaisaran Rusia. Paruh Pertama abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat, kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi diakui sebagai suatu disiplin ilmu akademik tersendiri. Setelah Perang Dunia II, pengaruh Akuntansi semakin terasa di Dunia Barat. Bagi banyak negara, akuntansi merupakan masalah nasional dengan standar dan praktik nasional yang melekat erat dengan hukum nasional dan aturan profesional.

http://lilielly.wordpress.com/2013/05/20/perbedaan-akuntansi-internasional-dengan-akuntansi-lainnya/

METODE KUADRAT TERKECIL SEBAGAI DASAR ANALISIS BIAYA REPARASI DAN PEMELIHARAN MESIN X PADA PT.XXX

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan guna melengkapi syarat-syarat untuk mencapai

gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Jenjang Strata Satu

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

Nama          : Vahmy Arria Fadlurrahman

NPM         :                                    28210343

Jurusan      :                                    Akuntansi

Kelas         :                                         4EB10

 FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

DEPOK

2014

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah

Perusahaan pada umumnya berusaha untuk menghasilkan laba secara terus menerus agar dapat menjamin kelangsungan hidup bagi perusahaan tersebut. Dalam menjalankan usahanya perusahaan akan berupaya untuk meminimkan pengeluaran, tujuan perusahaan tersebut akan berjalan dengan baik apabila perusahaan mampu mengendalikan pengeluaran biaya dengan lebih efektif.

Untuk menjaga peralatan dan mesin-mesin tersebut dapat terus dipakai demi kelangsungan proses produksi pada perusahaan maka mesin dan peralatan tersebut harus dipelihara dan dirawat, serta memakai mesin dan peralatannya pada tingkat volume biasanya diukur dengan satuan jam mesin yaitu seberapa lama mesin  itu dipakai dalam jangka waktu tertentu.

Selain itu pihak perusahaan juga perlu memperhatikan besarnya biaya pemeliharaan dan reparasi mesin tersebut, terutama besarnya perubahan biaya. Perubahan biaya merupakan hal yang paling penting terutama dalam pengambilan keputusan, apakah keputusan tersebut menambah atau mengurangi anggaran biaya reparasi dan pemeliharaan. Bila angaran yang ditetapkan terlalu kecil, maka akan menghambat kelancaran proses produksi karena kurangnya dana untuk memperbaiki mesin yang mengalami kerusakan, bila hal ini terus berlanjut maka perusahaan akan mengalami kerugian. Demikian pula sebaiknya bila anggaran yang ditetapkan terlalu besar akan menyebabkan adanya idle fund (dana yang menganggur) kemungkinan terjadi manifulasi semakin besar, selain itu pengaruh nilai waktu luang akan mengakibatkan nilai dana tersebut semakin lama semakin kecil dan akhirnya akan mengakibatkan kerugian pada perusahaan tersebut.

Apabila hubungan antara volume kegiatan produksi dengan biaya pemeliharaan reparasi mesin dapat diketahui maka perusahaan akan dapat memperkirakan tentang biaya yang relavan sehingga dapat memutuskan berapa biaya anggaran yang akan ditetapkan diwaktu yang akan datang dengan tingkat volume produksi tertentu.

Oleh karena itu semakin tepatnya suatu keputusan tergantung keakuratan suatu estimasi (penafsiran). Dengan melihat betapa pentingnya keakuratan estimasi biaya pemeliharaan dan reparasi mesin. Berdasarkan pembahasan diatas, maka penulis mengambil judul “Metode Kuadrat Terkecil Sebagai Dasar Analisis Biaya Reparasi Dan Pemeliharaan Mesin X Pada PT.XXX”.

1.2    Rumusan Masalah dan Batasan Masalah

1.2.1.      Rumusan Masalah

Masalah yang ditimbulkan dari perusahaan dalam mengestimasikan biaya reparasi dan pemeliharaan mesin adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana cara pengestimasian biaya reparasi dan pemeliharaan?
  2. Berapakah persamaan linier untuk menentukan jumlah biaya taksiran reparasi dan pemeliharaan pada tahun 2006?
  3. Bagaimana hubungan biaya reparasi dan pemeliharaan dengan volume kegiatan?

1.2.2.      Batasan Masalah

Mengingat luasnya pokok permasalahan yang dihadapi suatu perusahaan,maka dalam karya ini penulis membatasi ruang lingkup yaitu bagaimana pengestimasian biaya reparasi dan pemeliharaan mesin berdasarkan volume kegiatan produksi pada setiap departemen Pharma Plant khususnya mesin X periode 2005 dan dan tidak memperhitungkan tahun perolehan aktiva tetap dan metode yang digunakan adalah metode kuadrat terkecil.

1.3  Tujuan Penelitian

Dengan adanya rumusan masalah maka tujuan penelitian adalah untuk dapat mengetahui  biaya yang relavan pada perusahaan dengan melihat korelasi hubungan antara biaya reparasi dan pemeliharaan mesin berdasarkan perubahan volume kegiatan pada perusahaan “ACTAVIS”,Sehingga dapat menaksirkan biaya reparasi dan pemeliharaan mesin untuk tahun yang akan datang.

1.4  Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang penulis buat meliputi :

  1. Manfaat akademis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan informasi     mahasiswa dalam pengestimasian biaya reparasi dan pemeliharaan mesin.

  1. Manfaat praktis

Penelitian ini bermanfaat untuk perusahaan dengan cara membandingkan metode yang dipakai perusahaan terhadap metode penelitian yang penulis buat dan memberikan solusi kepada perusahaan dalam mengestiman biaya reparasi dan pemeliharaan mesin.

  

1.5.Metode Penelitian

1.5.1. Objek Penelitian

 Nama perusahaan         : PT. XXX

Alamat perusahaan      : Jl ABC

1.5.2. Data Perusahaan

 Data yang penulis ambil adalah Data Primer yaitu Data yang belum diolah perusahaan.

1.5.3. Metode Pengumpulan data

Metode penulisan yang hanya digunakan dalam penyusunan penulisan ilmiah dengan cara:

  1. Studi kepustakaan

Penulis melakukan penelitian kepustakaan dengan membawa buku, literature, serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan masalah.

  1. Studi lapangan

Dilakukan dengan cara mengadakan penelitian langsung (observasi) terhadap objek yang diteliti dengan meminta data yang berhubungan dan pembahasan masalah serta mewawancarai pihak yang berkaitan diperusahaan.

1.5.4. Alat analisis yang digunakan 

Alat analisis yang penulis gunakan dapat merupakan salah satu atau kombinasi dari:

  1. Analisis deskrptif

Penulis menggunakan tabel dalam menganalisa masalah.

  1. Analisa kuantitatif

Penulisan menggunakan rumus dengan metode kuadrat terkecil langkah-langkah :

  1. Menentukan besarnya biaya variabel satuan (b)
  1. Menentukan besarnya total biaya tetap (a)
  1. Menentukan anggaran biaya fleksibel

Y = a + b x

Ket :

X = Kapasitas jam mesin

Y = Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1. Pengertian dan Tujuan Estimasi Biaya

Pengetahuan mengenai bagaimana suatu biaya akan berubah dibawah berbagai macam pengaruh merupakan hal penting dalam estimasi biaya dimasa yang akan datang.

Masalah yang dihadapi akuntan dan manager sering kali disebut dengan penaksiran (estimasi) biaya atau apoksimasi biaya, yang merupakan usaha untuk merinci variable hubungan yang mendasar antara variable bebas (X) dan variable tidak bebas (Y).

Pengertian estimasi biaya menurut Sudarto (1996,134) adalah: “Merupakan jumlah yang timbul dari semacam estimasi. Jumlah tersebut dinyatakan kira-kira, baik biaya tetap maupun biaya variable, karena sulit dinyatakan jumlah yang pasti sejak sebelumnya”.

Sedangkan estimasi biaya menurut Hongren (1992,279) adalah: Usaha untuk merinci hubungan yang mendasar antara X hubungan yang mendasar antara Xah) relevan (Relevant Range) dari X yang ditentikan menjadi perhatian kita. Jadi dengan suatu kuantifikasi atas variable bebas X (misalnya jarak KM yang ditempuh), berapa besar variable tidak bebas Y (misalnya, total biaya reparasi).

Dari kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa estimasi biaya adalah jumlah biaya yang merupakan variable tidak bebas yang tergantung dari variable bebas bedasarkan suatu hubungan atau pola tertentu.

Sedangkan tujuan estimasi biaya adalah untuk menunjukan rencana biaya yang diterapkan dimasa mendatang dan membantu pihak manajemen dalam pengambilan keputusan.

2.1.1. Pengertian Prilaku Biaya.

Pengertian prilaku biaya menurut Abdul Halim dan Bambang Supomo (1990,13) adalah: “Pola perubahan biaya dalam kaitan dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas perusahaan”.

Pengertian prilaku biaya menurut Mulyadi (1999,507) adalah: “Hubungan antara total biaya dan perubahan volume kegiatan”.

Pengertian prilaku biaya menurut Charles T. Horngren (1992,265) adalah “Hubungan antara biaya total dengan perubahan – perubahan yang terjadi dengan volume kegiatan “.

Pengertian prilaku biaya menurut Don R Hansen dan Maryanne M. Mowen (2000,85) adalah: “Istilah umum untuk menggambarkan apakah dalam hubungan  perusahaan dengan keluaran kegiatan”.

Pengertian prilaku biaya menurut Henry Simamora (1999,132) adalah “Bagaimana suatu biaya akan bereaksi untuk memberikan respons terhadap perubahan tingkat aktivitas usaha”.

Dari definisi diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa prilaku biaya adalah hubungan berdasarkan tingkah laku dan digunakan untuk menaksir biaya dan pengambilan keputusan.

2.1.2. Penentuan Prilaku Biaya

Menurut Mulyadi (2005,470) ada 3 faktor yang harus diperhitungkan dalam menetapkan pola prilaku suatu biaya adalah sebagai berikut:

1. Harus dipilih biaya yang akan diselidiki, pola prilaku biaya ini merupakan variable tidak bebas (dependet variable) dan biasanya dinyatakan dengan symbol Y.

2. Harus dipilih variable bebas (independent variable) yaitu suatu yang menyebabkan biaya tersebut berfluktuasi.

3. Harus dipilih kegiatan yang relevan (relevant range of activity) dimana hubungan antara variable bebas dan tidak bebas yang dinyatakan dalam fungsi biaya tersebut yang berlaku.

2.1.3. Penggolongan Biaya Berdasarkan Perubahan Volume Kegiatan

Pengertian biaya menurut Supriono (1992,185) adalah “Pengorbanan ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang atau jasa. Dengan kata lain, biaya adalah perolehan barang atau jasa yang diperlukan organisasi”.

Biasanya biaya diukur berdasarkan satuan moneter, bila di Indonesia satuannya adalah rupiah. Dalam Akuntansi Manajemen, istilah biaya digunakan dalam berbagai cara sesuai kebutuhan manajemen. Kebutuhan manajemen yang berbeda memerlukan cara penggolongan yang berbeda pula. Untuk estimasi biaya, terlebih dahulu harus diketahui penggolongan biaya berdasarkan perubahan volume kegiatan, biaya dibagi menjadi:

a. Biaya Tetap

Biaya tetap mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. Biaya yang jumlah totalnya tetap konstan, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai tingkat tertentu.
  2. Biaya tetap persatuan berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan.
  3. Biaya tetap atau biaya kapasitas digunakan untuk mempertahankan kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu.
  4. Contoh : Biaya Overhead Pabrik tetap, biaya pemasaran tetap, biaya depresiasi aktiva tetap, dan lain-lain.

b. Biaya Variabel

Biaya variable mempunyai karakterstik sebagai berikut:

1.   Biaya yang jumlah totalnya akan berubah sebanding (proporsional) dengan perubahan volume kegiatan, semakin tingi volume kegiatan, semakin tinggi jumlah total biaya variable, semakin rendah volume kegiatan semakin rendah jumlah total biaya variable.

2.   Biaya variable konstan (tetap dengan adanya perubahan volume kegiatan).

3.   Contoh : Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, BOP variable, biaya pemasaran variable, dan biaya administrasi variable.

c. Biaya Semi Variable

Biaya semi variable memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Biaya semi variable jumlah totalnya berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak sebanding. Semakin tinggi volume kegiatan, semakin besar jumlah total biaya, semakin rendah volume kegiatan semakin rendah pula jumlah total biaya, tetapi perubahannya tidak sebanding.
  2. Biaya semi variable persatuan berubah terbalik dihubungkan dengan perubahan kegiatan, tetapi sifatnya tidak sebanding. Sampai dengan tingkat kegiatan tertentu semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya satuan, semakin rendah volume kegiatan semakin tinggi biaya satuan.
  3. Contoh : Biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap, biaya kendaraan, biaya telepon, biaya listrik dan lain-lain.

2.1.4. Pengertian Biaya

Pengertian biaya menurut Mulyadi (1999,81) adalah:  “Pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu”.

Pengertian biaya menurut Don K. Hansen dan Maryanne M.Mowen (2000,36) adalah: “Kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau masa akan datang dari organisasi”.

Pengertian biaya menurut Ray H. Garrison (1998,34) adalah: “Istilah biaya sebagai pengorbanan yang dilakukan agar memperoleh barang dan jasa”.

Dari definisi diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa ada 4 unsur pokok dalam definsi biaya adalah:

1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.

2. Diukur dalam satuan uang

3. Yang telah terjadi atau dasar potensial yang akan terjadi

4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Maka biaya adalah suatu pengorbanan yang dilakukan untuk mendapatkan barang atau jasa yang akan dinilai dengan uang dan memberikan manfaat dimasa yang akan datang

2.1.5. Pengertian Biaya Reparasi Dan Pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan suatu alat bagi pimpinan perusahaan dalam melancarkan proses produksi atau meningkatkan produksi secara tepat baik secara kualitas maupun kuantitas. Untuk melaksanakan pemeliharaan dan reparasi terhadap aktiva tetapnya, perusahaan perlu mengeluarkan biaya yang sering disebut dengan biaya reparasi dan pemeliharaan.

Pengertian biaya reparasi dan pemeliharaan menurut Machfoedz (1983,234) adalah: “Biaya yang dikeluarkan untuk memelihara aktiva tetap agar kondisinya selalu normal untuk operasi perusahaan, tetapi tidak menambah manfaat ekonomi yang ada”.

Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin dalam pencatatan akuntansi diperlakukan sebagai biaya pada saat terjadinya.

Contoh biaya reparasi dan pemelihraan disini adalah:

  1. Biaya menjaga fasilitas mesin.
  2. Biaya penggantian bagian mesin tertentu/minyak pelumas.
  3. Biaya untuk membersihkan mesin-mesin
  4. Dan lain-lain

Dalam mengestimasikan biaya pemeliharaan dan reparasi mesin, biasanya perlu diketahui perubahan dan fluktuasi volume kegiatan produksi. Volume kegiatan biasanya diukur dengan jumlah jam tenaga langsung, jumlah produk perunit, jam mesin dll.

Pengestimasian biaya reparasi dan pemeliharaan dalam penulisan ini mengukur volume kegiatan bedasarkan jam mesin. Untuk mengestimasi biaya reparasi dan pemeliharaan, terlebih dahulu biaya ini harus dipisahkan sebagai biaya tetap dan biaya variable karena biaya reparasi dan pemeliharaan ini termasuk biaya semi variable. Umumnya digambarkan dalam suatu persamaan matematika dalam bentuk garis lurus atau linier yaitu:

Y = a + b (X)

Y = Jumlah total biaya

a =Jumlah total biaya tetap

b =biaya variable satuan

X =Jumlah volume kegiatan

2.2. Kajian Penelitian Sejenis

Dewi Kusuma Ningkrum adalah mahasiswa gunadarma jurusan Akuntansi,membuat penelitian ilmiah berjudul “Pengestimasian Biaya Reparasi dan Pemelihaan Mesin Berdasarkan Volume Kegiatan”  (1998-1999).

Dwi Nita Kusumaningkrum adalah mahasiswa Gunadarma jurusan Akuntansi,membuat penelitian ilmiah berjudul “Metode Kuadrat Terkecil Sebagai Dasar Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Mesin Jahit ” (2004-2005)

2.3. Alat Analisis

Secara umum, hubungan antara biaya total dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam volume kegiatan dikenal dengan prilaku biaya. Karena biaya seringkali tidaklah tepat termasuk pada kategori yang variable maupun tetap, maka terdapat sejumlah prilaku biaya yang beraneka ragam, yang secara teknis disebut fungsi-fungsi biaya.

Menurut Hongren (1992,276) fungsi biaya didefinisikan sebagai “Suatu hubungan atau perbandingan antara suatu biaya dengan satu variable atau lebih”.

Fungsi biaya adalah linier pada daerah yang relevan dan pengestimasian secara garis lurus seringkali dipandang cukup tepat bagi sebagian besar keputusan. Prilaku biaya yang “murni” dapat dijelaskan dengan baik oleh satu variable bebas dan bukan lebih dari satu variable.

Menurut Mulyadi (2005,471) pemisahan biaya semi variable menggunakan pendekatan histories atau prilaku biaya sesungguhnya masa lalu. Anggapan dasar dari pendekatan prilaku biaya masa lalu adalah biaya masa datang akan mempunyai prilaku yang sama dengan biaya masa lalu. Ada 2 pendekatan dalam memperkirakan fungsi biaya:

2.3.1. Pendekatan Historis

Didalam pendekatan histories, fungsi biaya ditemukan dengan cara menganalisa biaya dimasa yang lalu dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan dalam masa yang sama. Ada 3 metode untuk memperkirakan atau menentukan fungsi biaya dengan pendekatan histories:

a. Metode Titik Tertinggi dan Titik Terendah

Metode ttik tertinggi dan titik terendah memisahkan biaya variable dan biaya tetap dalam periode tertentu dengan mendasarkan kapasitas dan biaya pada titik tertinggi dan titik terendah. Perbedaan biaya antara kedua titik tersebut disebabkan adanya perubahan kapasitas dan besarnya tarif biaya variable satuan, sehingga persamaan Y = a + b(X) dapat ditentukan.

Langkah-langkah:

1. Menentukan biaya variable satuan atau (b)

Rumus =         b = Yt – Yr

Xt – Xr

2. Menentukan besarnya biaya tetap atau (a)

Pada titik tertinggi rumusnya:             a = Yt – b (Xt)

Pada titk terendah rumusnya:             a = Yr – b(Xr)

3.Menentukan besarnya anggaran biaya fleksibel:

Y = a + b(X)

Dimana:

Yt = jumlah biaya pada titik tertinggi

Yt = jumlah biaya pada titik terendah

a = jumlah total biaya tetap

Xt = kapasitas tertinggi

Xt = Kapasitas terendah

b. Metode Kuadrat Terkecil

Metode kuadrat terkecil adalah metode pemisahan biaya variable dan biaya tetap dengan cara menentukan hubungan variable, tergantung dengan variable bebas dari sekumpulan data. Dalam penulisan ini variable tergantung (Y) adalah biaya reparasi dan pemeliharaan mesin dan variable bebas (X) adalah kapasitas jam mesin:

Langkah-langkah:

1. Menentukan besarnya biaya variable satuan atau (b)

Rumus:                 b = n.S XY – SX . SY

n.SX2 – S(X)2

2. Menentukan besarnya total biaya tetap atau (a)

Rumus:            a = SY – bSX

N

3. mentukan anggaran biaya fleksibel

Rumus:            Y = a + b(X)

Dimana:

X = kapasitas jam mesin

Y = biaya reparasi dan pemeliharaan mesin

c. Metode Biaya Bersiap

Metode biaya bersiap atau berjaga adalah metode pemisahan biaya tetap atau biaya variable dengan cara menghitung besarnya biaya pada keadaan perusahaan atau pabrik ditutup untuk sementara tetapi dalam keadaan siap untuk beroprasi, besarnya biaya bersiap dan dianggap sebagai total biaya tetap atau (a).

Setelah total biaya tetap atau (a) diketahui, langkah berikutnya adalah menentukan besarnya biaya variable satuan dari tingkat kegiatan rata-rata dan biaya rata-rata dengan rumus:

_                _

Y = a + b X

_          _                                 _

B X = Y – a    atau     b = Y – a

_

X

Dimana:

_

Y = Biaya rata-rata

_

X = tingkat kegiatan rata-rata

a = biaya tetap

b = biaya variable

Langkah-langkah:

1. Menentukan besarnya total biaya tetap atau (a)

2. Menentukan besarnya biaya variable satuan atau(b)

3. Menentukan besarnya anggaran fleksibel dengan rumus:

Y = a + b(X)

d. Metode Grafik Statistikal

Metode grafik statistical adalah metode pemisahan biaya tetap dan biaya variable dengan cara menggambarkan biaya setiap bulan pada suatu grafik dan menarik suatu garis lurus ditengah titik biaya tersebut.

Langkah-langkah dalam pembuatan grafik statistical adalah:

1. Membuat denah atau grafik statistilkal.

Dari tegak lurus atau vertical disebut sumbu Y yang menunjukan besarnya    tingkatan biaya, garis mendatar atau horizontal disebut sumbu X yang   menunjukan tingkatan kapasitas atau kegiatan.

2. Menunjukan biaya setiap bulan pada grafik statistical

Biaya tiap bulan digambarkan pada grafik sesuai dengan besarnya biaya dan  tingkat kegiatan.

3. Ditarik garis b atau biaya

Dari semua titik-titik biaya ditarik garis lurus melewati ditengah-tengah titik  tersebut sampai memotong sumbu Y, Garis tersebut adalah garis b atau total  biaya.

4. Menentukan besarnya total biaya tetap atau a

Perpotongan garis b atau a biaya dengan sumbu Y dianggap atau menunjukan         total biaya tetap atau a, perpotongan dengan sumbu Y ditarik garis kekanan secara horizontal atau mendatar yang mmerupakan garis a yang menunjukan total biaya tetap.

5. Menentukan besarnya biaya variable satuan atau b

Besarnya biaya variable satuan atau b adalah:

_

b = SY – an           atau       b = Y – a

SX                                           _

X

Biaya variable satuan menunjukan kemiringan atau slop garis B atau total   biaya.

6. Menentukan persamaan anggaran fleksibel

Setelah a dan b diketahui, dapat disusun persamaan anggaran fleksibel perbulan    atau pertahun, yaitu dengan rumus:

Y = a + bX

2.3.2. Metode Analitis

Didalam metode analitis diadakan kerja sama diantara orang-orang tekhnik dan staff anggaran untuk mengadakan penyelidikan terhadap tiap-tiap fungsi (kegiatan atau pekerjaan) guna menentukan pentingnya fungsi tersebut, metode pelaksanaan yang paling efisien dan jumlah biaya bersangkutan dengan pelaksanaan pekerjaan tersebut pada berbagai tingkat kegiatan.

2.4. Koeffsien Determinan

Koeffsien determinan (r2) merupakan ukuran yang menunjukan persentase perubahan variable tak bebas (Y) yang disebabkan hubungan linier dengan variable bebas (X). Biaya tidak hanya tidak berubah dalam hubungannya dengan volume kegiatan, namun masih ada factor lain yang berpengaruh terhadap prilaku biaya.

Dengan menghitung koeffsien determinan dapat diketahui beberapa persen perubahan suatu biaya yang disebabkan oleh perubahan volume kegiatan.

Rumus:

_

r2 = S (Y – Y)2S (Y – Y’)2

_

S(Y-Y)2

Dimana:

Y = Biaya masa lalu

Y’ = Taksiran biaya dengan persamaan Y = a + b(X)

_

Y = Rata-rata biaya masa lalu

2.5. Kesalahan Standar Taksiran

Kesalahan standar taksiran adalah deviasi standar atau penyimpangan standar kuadrat terkecil. Kadang kala perkiraan besarnya biaya menyimpang jauh dari biaya yang sesungguhnya terjadi. Hal ini disebabkan karena adanya unsur ketidakpastian, misalnya penaksiran yang kurang memperoleh informasi tentang masa depan.

Dengan menggunakan fungsi biaya yang dibuat dengan Metode  Kuadrat Terkecil, Kesalahan standar taksiran berguna untuk menentukan taksiran interval biaya masa datang, apabila diketahui prosentase tingkat kepercayaannya.

Rumus:

Se =          S (Y – Y’)2

n-2

Dengan tingkat kepercayaan 95%, standar error menentukan taksiran interval biaya dengan rumus:

Y^ = (a + bX) + t0.025 (se)

Dimana:

Se = Standar error (kesalahan standar taksiran)

Y = Biaya masa lalu

Y^ = Taksiran biaya masa depan

X = Tingkat kapasitas tertentu

n = Jumlah data

t0.025 = Tingkat kepercayaan 95%

n-2 = Tingkat kebebasan.

Arti 2 dalam n-2 adalah banyaknya konstanta dalam persamaan regresi  yaitu a dan b

2.6 Standar Error Koefisien Determinasi.

Analisa regresi dengan persamaan Y= a + b (x) mendasarkan pada anggapan bahwa y mempunyai hubungan linier dengan x.Hubungan biaya reparasi dan pemeliharaan yang dinyatakan persamaan Y= a + b (x) berarti setiap ada perubahan biaya reparasi dan pemeliharaan sebesar b. Jika x dan y tidak mempunyai hubungan linier (yang berarti b=0) maka penggunaan persaman garis Y= a + b (x) untuk menaksir biaya reparasi dan pemeliharaan akan menghasilkan taksiran yang keliru. Oleh karena itu sebelum persamaan garis regresi tersebut dipakai untuk menaksir biaya,perlu dilakukan pengujian terhadap ada tidaknya hubungan linier antara x (jam mesin) dan y (biaya reparasi dan pemeliharaan) tesebut. Oleh karena itu diperlukan penilaian atau pengujian hipotesis yang berhubungan dengan b sebagai berikut:

1. Hipotesis 0 ® b = 0, tidak ada hubungan perubahan antara y dan x.

2. Hipotesis 0 ® b ¹ 1, ada hubungan perubahan antara y dan x.

Rumus:

Sb =          Se

S(x-x)2

Untuk mengetes hipotesa nol (Ho) dimana b = 0,diperlukan perhitungan nilai t yang menggambarkan standar error yang menghitung nilai b. Rumus nilai t adalah sebagai berikut:

t value =   b       

Sb

S= Standard error of the regretion coefficient

b   = Biaya variabel perunit

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1. Objek Penelitian

Objek penelitian yang penulis ambil adalah sebagai berikut :

  1. Nama Perusahaan adalah PT. XXX
  2. Alamat Perusahaan di Jl. ABC

3.2. Data / Variabel yang Digunakan

Data yang penulis ambil adalah data primer yaitu data yang belum diolah perusahaan.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Metode penulisan yang hanya digunakan dalam penyusunan penulisan ilmiah dengan cara:

  1. Studi kepustakaan

Penulis melakukan penelitian kepustakaan dengan membawa buku,                          literature, serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan masalah

  1. Studi lapangan

Dilakukan dengan cara mengadakan penelitian langsung (observasi) terhadap objek yang diteliti dengan meminta data yang berhubungan dan pembahasan masalah serta mewawancarai pihak yang berkaitan diperusahaan

 

3.4. Alat Analisis

Alat analisis yang penulis gunakan dapat merupakan salah satu atau kombinasi dari:

  1. Analisis deskrptif

Penulis menggunakan tabel dalam menganalisa masalah

  1. Analisa kuantitatif

Penulisan menggunakan rumus dengan metode kuadrat terkecil langkah-langkah :

  1. Menentukan besarnya biaya variabel satuan (b)
  1. Menentukan besarnya total biaya tetap (a)
  1. Menentukan anggaran biaya fleksibel

Y = a + b x

Ket :

X = Kapasitas jam mesin

Y = Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin

Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil:

Langkah-langkah:

1. Menentukan besarnya biaya variable satuan atau (b)

Rumus:                 b = n.S XY – SX . SY

n.SX2 – S(X)2

2. Menentukan besarnya total biaya tetap atau (a)

Rumus:            a = SY – bSX

N

3. mentukan anggaran biaya fleksibel

Rumus:            Y = a + b(X)

Dimana:

X = kapasitas jam mesin

Y = biaya reparasi dan pemeliharaan mesin

SUMBER

Abdul Halim, dan Bambang Supomo, 1990, Akuntansi Manajemen, Edisi 1,

BPFE, Yogyakarta.

Bambang Kustituanto dan Rudy Badrudin, 1994, Statistika I (Deskriptif),

Gunadarma.

Garrison, Ray H, 1998, Akuntansi Manajemen, Edisi 5, Ak.Group, Yogyakarta.

Hansen, H.Don, Maryanne M, Mowen, 2000, Manajemen Biaya (Akuntansi dan

          Pengendalian), Edisi 1, Salemba Empat Jakarta.

Henry Simamora, 1999, Akuntansi Biaya, Jilid 5, Aditya Media, Yogyakarta.

Horngren, Charles T,1992, Pengantar Akuntansi Manajemen ,Erlangga, Jakarta.

Mas’ud Machfoedz dan Kumala Hadi, Akuntasi Keuangan Menengah, BPFE,

Yogyakarta.

Mulyadi, 1999, Akuntansi Biaya, STIE YKPN, Yogyakarta.

Mulyadi ,2005, Akuntansi Biaya, STIE YKPN, Yogyakarta.

S Sudarto, 1996, Akuntansi Manajemen , Gunadarma, Jakarta.

R.A. Supriyono, 1990,  Akuntansi Biaya Penggumpulan dan Penentuan            

          Harga pokok, Edisi 2Yogyakarta.

R.A. Supriyono, 1992,  Akuntansi Manajemen 1 (Konsep Dasar Akuntansi

         Manajemen dan Proses Perencanaan, Edisi 1, BPFE, Yogyakarta.

Nama : Vahmy Arria Fadlurrahman

Kelas : 4eb10

NPM : 28210343

ETIKA DALAM AUDITING

Menurut bahasa Yunani Kuno, etika berasal dari kata ethikos yang berarti “timbul dari kebiasaan”. Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika/

Auditing adalah suatu proses dengan apa seseorang yang mampu dan independent dapat menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti dari keterangan yang terukur dari suatu kesatuan ekonomi dengan tujuan untuk mempertimbangkan dan melaporkan tingkat kesesuaian dari keterangan yang terukur tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Etika dalam auditing adalah suatu proses yang sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut, serta penyampaian hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
1.      Kepercayaan Publik

Profesi akuntan memegang peranan yang penting dimasyarakat, sehingga menimbulkan ketergantungan dalam hal tanggung-jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan Publik merupakan kepentingan masyarkat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara.
    2.      Tanggung Jawab Auditor Kepada Publik
Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani secara keseluruhan. Publik akan mengharapkan akuntan untuk memenuhi tanggung jawabnya dengan integritas, obyektifitas, keseksamaan profesionalisme, dan kepentingan untuk melayani publik. Para akuntan diharapkan memberikan jasa yang berkualitas, mengenakan jasa imbalan yang pantas, serta menawarkan berbagai jasa dengan tingkat profesionalisme yang tinggi. Atas kepercayaan publik yang diberikan inilah seorang akuntan harus secara terus-menerus menunjukkan dedikasinya untuk mencapai profesionalisme yang tinggi.
Ketika auditor menerima penugasan audit terhadap sebuah perusahaan, hal ini membuat konsequensi terhadap auditor untuk bertanggung jawab kepada publik. Penugasan untuk melaporkan kepada publik mengenai kewajaran dalam gambaran laporan keuangan dan pengoperasian perusahaan untuk waktu tertentu memberikan ”fiduciary responsibility” kepada auditor untuk melindungi kepentingan publik dan sikap independen dari klien yang digunakan sebagai dasar dalam menjaga kepercayaan dari publik.
    3.      Tanggung Jawab Dasar Auditor
The Auditing Practice Committee, yang merupakan cikal bakal dari Auditing Practices Board, ditahun 1980, memberikan ringkasan (summary) tanggung jawab auditor :
a.       Perencanaan, Pengendalian dan Pencatatan. Auditor perlu merencanakan, mengendalikan dan mencatat pekerjannya.
b.      Sistem Akuntansi. Auditor harus mengetahui dengan pasti sistem pencatatan dan pemrosesan transaksi dan menilai kecukupannya sebagai dasar penyusunan laporan keuangan.
c.       Bukti Audit. Auditor akan memperoleh bukti audit yang relevan dan reliable untuk memberikan kesimpulan rasional.
d.      Pengendalian Intern. Bila auditor berharap untuk menempatkan kepercayaan pada pengendalian internal, hendaknya memastikan dan mengevaluasi pengendalian itu dan melakukan compliance test.
e.       Meninjau Ulang Laporan Keuangan yang Relevan. Auditor melaksanakan tinjau ulang laporan keuangan yang relevan seperlunya, dalam hubungannya dengan kesimpulan yang diambil berdasarkan bukti audit lain yang didapat, dan untuk memberi dasar rasional atas pendapat mengenai laporan keuangan.
     4.      Independensi Auditor
Independensi adalah keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain. Terdapat tiga aspek independensi seorang auditor, yaitu sebagai berikut :
a.       Independence in fact (independensi dalam fakta). Artinya auditor harus mempunyai kejujuran yang tinggi, keterkaitan yang erat dengan objektivitas.
b.      Independence in appearance (independensi dalam penampilan). Artinya pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit.
c.       Independence in competence (independensi dari sudut keahliannya). Independensi dari sudut pandang keahlian terkait erat dengan kecakapan profesional auditor.
     5.      Peraturan Pasar Modal dan Regulator Mengenai Independensi Akuntan Publik
Pasar modal memiliki peran yang sangat besar terhadap perekonomian Indonesia. institusi yang bertugas untuk melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari kegiatan pasar modal di Indonesia adalah Badan Pengawas Pasar Modal atau Bapepam. Bapepam mempunyai kewenangan untuk memberikan izin, persetujuan, pendaftaran kepada para pelaku pasar modal, memproses pendaftaran dalam rangka penawaran umum, menerbitkan peraturan pelaksanaan dari perundang-undangan di bidang pasar modal, dan melakukan penegakan hukum atas setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.
Salah satu tugas pengawasan Bapepam adalah memberikan perlindungan kepada investor dari kegiatan-kegiatan yang merugikan seperti pemalsuan data dan laporan keuangan.
Ketentuan-ketentuan yang telah dikeluarkan oleh Bapepam antara lain adalah Peraturan Nomor: VIII.A.2/Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-20/PM/2002 tentang Independensi Akuntan yang Memberikan Jasa Audit Di Pasar Modal.
nama       :  Vahmy Arria Fadlurrahman
NPM       :  28210343
kelas       :  4EB10

Kode Etik Profesi Akuntansi

Setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa pada masyarakat harus memiliki kode etik yang merupakan seperangkat moral-moral dan mengatur tentang etika professional (Agnes, 1996). Pihak-pihak yang berkepentingan dalam etika profesi adalah akuntan publik, penyedia informasi akuntansi dan mahasiswa akuntansi (Suhardjo dan Mardiasmo, 2002). Di dalam kode etik terdapat muatan-muatan etika yang pada dasarnya untuk melindungi kepentingan masyarakat yang menggunakan jasa profesi. Terdapat dua sasaran pokok dalam dua kode etik ini yaitu Pertama, kode etik bermaksud melindungi masyarakat dari kemungkinan dirugikan oleh kelalaian baik secara disengaja maupun tidak disengaja oleh kaum profesional. Kedua, kode etik bertujuan melindungi keluruhan profesi tersebut dari perilaku-perilaku buruk orang tertentu yang mengaku dirinya profesional (Keraf, 1998).

Kode etik akuntan merupakan norma dan perilaku yang mengatur hubungan antara auditor dengan para klien, antara auditor dengan sejawatnya dan antara profesi dengan masyarakat. Kode etik akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh anggota, baik yang berpraktek sebagai auditor, bekerja di lingkungan usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan. Etika profesional bagi praktek auditor di Indonesia dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (Sihwajoni dan Gudono, 2000).

Prinsip perilaku profesional seorang akuntan, yang tidak secara khusus dirumuskan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tetapi dapat dianggap menjiwai kode perilaku IAI, berkaitan dengan karakteristik tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang akuntan.

Untuk mengawasi akuntan public, khususnya kode etik, Departemen Keuangan (DepKeu) mempunyai aturan sendiri yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.17 Tahun 2008 yang mewajibkan akuntan dalam melaksanakan tugas dari kliennya berdasarkan SPAP (Standar Profesi Akuntan Publik) dan kode etik. SPAP dan kode etik diterapkan oleh asosiasi profesi berdasarkan standar Internasional. Misalkan dalam auditing, SPAP berstandar kepada International Auditing Standart.

Laporan keuangan mempunyai fungsi yang sangat vital, sehingga harus disajikan dengan penuh tanggung jawab. Untuk itu, Departemen Keuangan menyusun rancangan Undang-undang tentang Akuntan Publik dan RUU Laporan Keuangan. RUU tentang Akuntan Publik didasari pertimbangan untuk profesionalisme dan integritas profesi akuntan publik. RUU Akuntan Publik terdiri atas 16 Bab dan 60 Pasal , dengan pokok-pokok mencakup lingkungan jasa akuntan publik, perijinan akuntan publik, sanksi administratif, dan ketentuan pidana.

Menurut International Federation of Accountants (dalam Regar,2003) yang dimaksud dengan profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian  di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan publik, akuntan intern yang bekerja pada perusahaan industri, keuangan atau dagang, akuntan yang bekerja di pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik.

Dalam arti sempit, profesi akuntan adalah lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh akuntan sebagai akuntan publik yang lazimnya terdiri dari pekerjaan audit, akuntansi, pajak dan konsultan manajemen.

Profesi Akuntan biasanya dianggap sebagai salah satu bidang profesi seperti organisasi lainnya, misalnya Ikatan Dokter Indonesia(IDI). Supaya dikatakan profesi  ia harus memiliki beberapa syarat sehingga masyarakat sebagai objek dan sebagai pihak yang memerlukan profesi, mempercayai hasil kerjanya. Adapun ciri profesi menurut Harahap (1991) adalah sebagai berikut:

  1.  Memiliki bidang ilmu yang ditekuninya yaitu yang merupakan pedoman dalamelaksanakan  keprofesiannya.

2.     Memiliki kode etik sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku anggotanya dalam profesi itu.

3.     Berhimpun dalam suatu organisasi resmi yang diakui oleh masyarakat atau pemerintah.

4.     Keahliannya dibutuhkan oleh masyarakat.

5.  Bekerja bukan dengan motif  komersil tetapi didasarkan kepada fungsinya sebagai kepercayaan masyarakat.

B. Aturan Etika

a. Independensi, Integritas dan Obyektivitas

Independensi berarti dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam standar profesional akuntan publik yang ditetapkan oleh IAI.

Integritas dan Obyektifitas dimana anggota KAP mempertahankan integrits dan obyektifitas harus bebas dari konflik kepentingan dan tidak boleh membiarkan adanya salah saji.

b. Standard Umum dan Prinsip Akuntansi

Standard Umum , seorang anggota KAP harus mematuhi standard yang dikeluarkan oleh badan pengatur standard.

c. Tanggung Jawab Kepada Klien

Anggota KAP tidak diperkenankan mengungkapkan informasi klien yang rahasia tanpa persetujuan klien.

d. Tanggung Jawab kepada Rekan

Anggota wajib memlihara citra profesi dan tidak melakukan perkataan dan perbuatan yang dapat merusak citra reputasi rekan seprofesi.

e. Tanggung jawab Praktik lain

Anggota tidak diperkenankan melakukan tindakan dan atau mengucapkan perkataan yang dapat mencemarkan profesi.

  • Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:

(1) Prinsip Etika,

(2) Aturan Etika, dan

(3) Interpretasi Aturan Etika.

  • Prinsip Etika Profesi Ikatan Akuntan Indonesia

1.      Tanggung jawab profesi

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

2.      Kepentingan Publik

Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka

3.      Integritas

Untuk memelihara clan meningkatkan kepercayaan publik, Setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

4.      Objektivitas

Setiap anggota harus menjaga obyektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

5.      Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati­hatian, kompetensi clan ketekunan, Berta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.

6.      Kerahasiaan

Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kiewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

7.      Perilaku Profesional

Setiap Anggota harus berperilaku yang konsisten dalam reputasi profesi yang baik clan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

8.      Standar Teknis

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas clan obyektivitas.

 

nama       :  Vahmy Arria Fadlurrahman
NPM       :  28210343
kelas       :  4EB10

 

http://wikanpre.wordpress.com/2011/10/17/etika-profesi-akuntansi/

http://enomutzz.wordpress.com/2012/01/27/kode-etik-profesi-akuntansi/

http://denyil.wordpress.com/2013/11/13/tugas-5-kode-etika-profesi-akuntansi-2/